Berani Muda: Taruh Hatimu di Puncak Gunung!

rumahtangga FAHD

Saya menikah di usia 23 tahun. Bagi seorang laki-laki yang hidup di zaman modern, konon saya menikah di usia yang terlalu muda.

Mungkin benar begitu. Ketika enam tahun lalu memutuskan untuk menikah di usia dua puluh tiga, hanya beberapa bulan setelah lulus wisuda, banyak di antara teman saya yang mencibir, “Bodoh banget! Kamu akan kehilangan masa mudamu yang seru!” Kata salah satu di antara mereka.

“Kamu bakal nyesel! Pernikahan itu penjara buat laki-laki!” Umpat teman yang lain.

Tapi, entah mengapa, di tengah banyak cibiran dan tentangan, saya justru semakin yakin dengan keputusan saya waktu itu. Saya percaya, jika banyak orang takut untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya baik, berarti akan ada pengalaman istimewa yang saya dapatkan jika berani untuk melakukannya.

Maka saya menikah ketika usia saya tepat menginjak 23 tahun, 4 bulan, dan 3 hari.

Saya mungkin bukan tipe orang yang pemberani—apalagi nekad. Tetapi saya selalu penuh rasa ingin tahu. Dunia pernikahan selalu membuat saya penasaran. Dan saya yakin ia akan membuat saya tumbuh menjadi individu yang lebih kuat, lebih matang, lebih mandiri, lebih bijaksana.

***

Saya ingat nasihat ayah saya beberapa bulan sebelum hari pernikahan. “Sebaiknya kamu pikirkan lagi,” katanya, “Ini keputusan besar dalam hidupmu.”

Saya mengangguk. Lalu terdiam beberapa saat. Satu menit kemudian saya katakan, “Saya sudah memikirkannya sekali lagi. Dan saya akan tetap menikah.” Ujar saya.

Ayah saya tertawa. “Nggak tertarik S2 dulu?”

“Menikah lebih penting daripada S2.”

“Kenapa?”

“Kenapa tidak?” Saya bertanya balik.

Ayah saya tersenyum.

“Apa bedanya?” Tanya saya, “ A, saya bisa S2 dulu lalu menikah. B, saya bisa menikah dulu lalu S2. Jika hidup ini pilihan ganda, opsi ketiga selalu berbunyi: A dan B benar.”

Pada satu titik di mana ayah tak punya cara lain untuk mencegah keputusan saya. Ia memberi saya restu. “Ayah menikah di usia 27 tahun. Tapi ayah baru lulus kuliah di usia 26 tahun dan dapat pekerjaan di usia 27 tahun. Ayah nggak adil jika memaksamu menikah di usia 27 tahun. Karena kamu lulus kuliah di usia 22 tahun dan di usia 23 tahun sudah mendapat pekerjaan yang layak. Menikahlah…” Katanya.

Waktu itu kami bersalaman. Keputusan dua orang dewasa sudah dibuat secara sadar, dengan tanpa paksaan, dan tak ada pihak manapun yang dirugikan.

***

Kini, setelah enam tahun menikah, saya tak sedikitpun menyesali keputusan saya itu. Bahkan tak pernah sekalipun bertanya pada diri sendiri apakah saya menyesal sudah menikah di usia muda?

Saya tak punya waktu untuk memikirkannya. Sebab kini waktu saya dipenuhi oleh sejumlah tantangan, kebahagiaan, kekhawatiran, dan seluruh rasa yang ada ketika menjalani hidup berumah tangga. Seluruh rasa itu berdatangan setiap hari, menempa saya menjadi orang yang lebih baik, lebih dewasa, lebih matang, lebih bertanggung jawab, dan seterusnya.

“Apa kuncinya agar punya keberanian semacam itu?” Suatu kali seorang teman yang usianya lebih muda bertanya pada saya.

“Menikah di usia muda?” Saya memastikan arah pertanyaannya.

Ia mengangguk.

Saya menggelengkan kepala. “Kalau itu, saya nggak tahu,” jawab saya.

Teman saya mengerutkan dahinya.

“Tapi saya tahu caranya bagaimana agar kita kokoh dengan pendirian yang sudah kita tetapkan… Termasuk untuk menikah di usia muda.”

Air muka teman saya tiba-tiba berubah. “Wah, apa itu?”

“Taruh hatimu di puncak gunung!”

Saya menceritakan semuanya sambil mengingat-ingat nasihat salah satu mentor saya. “Banyak orang yang membuat sebuah keputusan dalam hidupnya, tetapi tak belajar untuk menguatkan hatinya. Padahal, dengan hati yang lemah, keputusan apapun selalu mudah digoyahkan. Hati yang lemah selalu sibuk dengan perasaan yang cemas, ragu, dan seterusnya. Hatinya tak ada di puncak gunung!”

“Hati yang tersimpan di puncak gunung tak akan merasa lelah, karena yang lelah adalah tubuh yang mendaki. Hati yang tersimpan di puncak gunung tak akan terbakar, karena yang terbakar adalah hutan-hutan yang kita jelajahi selama memperjuangkan mimpi. Hati yang tersimpan di puncak gunung tak akan tergelincir, karena yang tergelincir adalah tindakan dan pilihan-pilihan bodoh yang kita buat. Hati yang tersimpan di puncak gunung adalah hati yang kita buru dengan perasaan yang kuat!”

“Jadi, itu semacam impian?” Tanya teman saya tadi.

“Buat saya, lebih dari itu. Impian bisa kita ubah. Tapi hati harus kita kejar dan perjuangkan.”

Teman saya mengangguk-angguk.

Tentang pernikahan, selama apapun saya menjalaninya, tak akan pernah selesai. Saya masih terus mengejar dan memburu hati yang telah saya simpan di puncak gunung.

Dalam perjalanan dan pendakiannya, banyak yang memberi tahu saya tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi, banyak hutan yang belum pernah saya masuki, banyak rawa yang belum pernah saya ketahui. Dan barangkali ada beberapa ketidakberuntungan yang sedang mengintai saya, seperti binatang buas yang siap menerkam saya kapan saja.

Kadang-kadang saya beruntung, kadang-kadang saya kehilangan banyak uang. Kadang-kadang saya tersenyum bahagia, kadang-kadang saya harus menangis dengan punggung yang berguncang. Tapi saya siap menjalani semuanya. Saya siap karena tak ada pilihan lainnya.

Jika saya jatuh, saya selalu siap untuk kembali merangkak. Jika saya jatuh lebih keras lagi, saya selalu siap untuk mendaki kembali.

Gila memang, tapi mau bagaimana lagi? Saya harus menemukan dan memburu hati yang tertambat di puncak gunung! Semua perjalanan, setiap perjuangan, segala hal yang belum sanggup membunuh saya, hanya akan membuat saya jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Demikianlah. Mengapa saya ‘berani muda’ dalam banyak hal: Karena sejak awal saya menyimpan hati di puncak gunung!

Hanya jika keputusan sudah dibuat, kita baru disebut berani. Selamat mendaki!


Jakarta, 21 Oktober 2015

FAHD PAHDEPIE

(Penulis buku ‘Rumah Tangga’)